Minggir, Sabtu 25 Oktober 2025 – Balai KB Kapanewon Minggir melaksanakan Sekolah Lansia yang diadakan di Padukuhan Sembuhan Lor, kegiatan ini dihadiri oleh pihak Indonesia Ramah Lansia (IRL) Ibu Muflih (Dosen Universitas Respati Yogyakarta) dan PKB Balai KB Kapanewon Minggir Ibu Fx Krisniati. Pelaksanaan Sekolah Lansia ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Lansia dan Yel-yel serta Laporan dari bapak Ketua kelas bapak Yanto.
Materi pertama disampaikan oleh Bapak Muflih mengenai Resiko Jatuh pada Lansia. Jatuh didefinisikan sebagai seseorang roboh ke tanah atau ke level lebih rendah. Semakin lanjut usia manusia akan semakin tinggi resiko jatuhnya yang diakibatkan oleh penurunan kekuatan otot dan keseimbangan, penglihatan menurun, efek obat, dan penyakit tertentu. Oleh karena itu, resiko tersebut dapat dihindari dengan melakukan penilaian secara mandiri dengan tes berdiri dari kursi, cara berjalan, dan cek kondisi rumah serta melatih kekuatan dan keseimbangan, selain itu melakukan latihan duduk berdiri, berdiri dengan satu kaki, dan senam taichi. Berikut yang harus dilakukan ketika mengalami jatuh:
1. Jangan panik, jangan langsung bangun (periksa/rasakan adakah bagian tubuh yang luka), merangkat ke tempat yang aman
2. Ketika bangun dari jatuh : berguling ke sisi tubuh, dorong tubuh ke posisi merangkak, merangkak ke kursi yang kokoh, letakkan tangan di kursi, dorong tubuh hingga posisi berlutut, dorong tubuh untuk duduk di kursi
3. Apabila merasakan sakit yang hebat, tidak bisa menggerakkan anggota tubuh tertentu, bengkak/pusing/mual segera cari bantuan
Pemberian materi yang kedua disampaikan oleh Ibu Fx Krisniati PKB balai kb Kapanewon Minggir. Menjadi lansia yang Menginspirasi. Lansia identik dengan sosok lanjut usia yang menyedihkan, kesepian, sakit, rewel, dan jadi beban. Pada dasarnya lansia dapat mengupayakan diri menjadi lansia yang Bahagia dan sejahtera. lansia yang berkecukupan, sehat, beraktivitas dengan ceria bersama teman dan keluarga, piknik dan menikmati masa pension, tetapi tidak dipungkiri lansia juga beresiko mengalami kesepian karena anak pergi jauh, pasangan dan teman sebaya meninggal. Namun bukan berarti lansia bisa terus berlarut dalam kesedihan dan mengisolasi diri. Untuk menjadi lansia yang bahagia lansia perlu menerima berbagai perubahan yang dialami baik kesehatan fisik, peran sosial, penurunan aktivitas, finansial. Setelah itu lansia perlu menata sikap batin yang baik : tetap optimis, berkegiatan, dan bermanfaat bagi sesame. Dengan sikap batin yang tepat, lansia bisa menjalankan peran yang baik di keluarga dan komunitasnya. Sekalipun lansia sudah banyak keterbatasan. Lansia bisa menginspirasi sesame, generasi muda, maupun keluarganya dengan senantiasa tersenyum dan bersyukur di antara berbagai kesulitan. Sedemikian rupa sehingga lansia dapat menjadi pengungsian anak cucu dan keluarga di tengah himpitan kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan.(nn)


