Sleman, 22 April 2026 – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman melalui Tim Kerja Kualitas Hidup Perempuan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Pengarusutamaan Gender (PUG) Menuju 6 SIAP bagi Perempuan Tahun 2026 pada 21–22 April 2026 di Berbah. Kegiatan yang diikuti oleh masyarakat Kapanewon Berbah ini bertujuan meningkatkan pemahaman, kapasitas, dan komitmen masyarakat dalam mengintegrasikan perspektif gender ke dalam berbagai program pembangunan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan guna mewujudkan kebijakan dan program yang responsif terhadap kebutuhan seluruh lapisan masyarakat.
Acara dibuka dengan sambutan Lurah Kalitirto yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesetaraan gender sebagai salah satu fondasi pembangunan yang berkelanjutan. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ibu Isti Hartini, S.Sos. yang berharap melalui kegiatan BIMTEK ini peserta dapat semakin memahami pentingnya pengarusutamaan gender dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci dalam menciptakan kebijakan yang adil dan inklusif bagi perempuan maupun laki-laki.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi dari narasumber Rifka Annisa Women’s Crisis Center mengenai konteks gender dalam kehidupan sehari-hari. Narasumber menjelaskan perbedaan antara jenis kelamin dan gender. Jenis kelamin dipahami sebagai perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang tidak dapat dipertukarkan, sedangkan gender merupakan konstruksi sosial dan budaya yang melekat pada laki-laki maupun perempuan sehingga sifatnya dapat berubah dan dipertukarkan sesuai perkembangan masyarakat. Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa gender pada dasarnya bukanlah masalah selama tidak menimbulkan ketimpangan. Namun, dalam realitas sosial masih ditemukan relasi yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, upaya mewujudkan keadilan gender perlu dilakukan melalui pemenuhan empat aspek utama, yaitu akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang setara bagi semua pihak. Materi berikutnya membahas Advokasi Pengarusutamaan Gender (PUG) bagi perempuan. Dijelaskan bahwa sasaran utama PUG adalah kelompok rentan dan kelompok yang termarginalisasi. Strategi PUG diperlukan untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh kesempatan yang sama dalam proses pembangunan, baik dari sisi partisipasi, akses, kontrol, maupun manfaat yang diterima. Narasumber juga menyoroti pentingnya afirmasi bagi kelompok disabilitas, lanjut usia, anak, perempuan, serta kelompok rentan lainnya. Selain itu, peserta diajak untuk mendorong keterlibatan perempuan yang lebih luas dalam proses perumusan dan pengambilan kebijakan publik agar pembangunan dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berkeadilan. Kegiatan hari pertama berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan gender yang dihadapi di lingkungan masing-masing. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.
Memasuki hari kedua, peserta mendapatkan materi mengenai konsep 6 SIAP (Suara Aksi Perempuan Pelopor) yang meliputi SIAP Ekonomi, SIAP Sehat, SIAP Pintar, SIAP Hukum, SIAP Politik, dan SIAP Lestari. Narasumber memaparkan berbagai isu yang masih dihadapi perempuan pada masing-masing aspek serta solusi yang dapat diterapkan untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan. Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi ke dalam kelompok diskusi untuk mengidentifikasi berbagai isu gender yang ada di wilayah masing-masing berdasarkan enam aspek SIAP. Melalui diskusi tersebut, peserta juga merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengimplementasikan program 6 SIAP di lingkungan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber yang membahas hasil diskusi kelompok serta berbagai strategi penguatan peran perempuan di tingkat lokal. Seluruh rangkaian acara kemudian diakhiri dengan foto bersama sebagai simbol komitmen bersama dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di masyarakat. Melalui BIMTEK ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pengarusutamaan gender dan turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang inklusif, adil, serta mendukung pemberdayaan perempuan di berbagai bidang kehidupan.


