Evaluasi DBKS Di Desa Pondokrejo Kecamatan Tempel

By Admin / Agenda / 2018-12-14 05:23:15/ 0 Comments

Sleman, 4 Agustus 2016 – Keluarga sakinah mawaddah dan warohmah merupakan cita-cita dan tujuan setiap pasangan suami-istri. Ada banyak hal yang harus disiapkan dan ada banyak hal yang menjadi tantangan dalam menggapai keluarga sakinah. Terbentuknya keluarga sakinah akan memungkinkan putra dan putrinya tumbuh menjadi anak yang sholeh dan sholekhah. Pada gilirannya nanti, keluarga-keluarga sakinah membentuk bangsa dan negara yang kuat.

Dengan harapan seperti inilah, Kementrian Agama merasa perlu untuk melakukan pembinaan dan evaluasi Desa Binaan keluarga Sakinah (DBKS). Pembinaan dilaksanakan selama 3 tahun dan diakhiri dengan evaluasi lintas sektor. Desa Pondokrejo sudah mendapat pembinaan sejak tahun 2014. Hasil pembinaan kemudian dipantau dalam bentuk evaluasi di tahun 2016.

Berkaitan dengan evaluasi DBKS, kegiatan Bina Keluarga Sejahtera (BKS) juga turut berbenah. Materi-materi yang dibahas kemudian dikerucutkan menjadi satu materi yang paing bersinggungan dengan DBKS yakni fungsi keagamaan dalam keluarga. Menjadi hal yang menarik ketika tribina yaitu BKB, BKR, dan BKL membahas materi yang sama pada saat yang bersamaan. Semua bisa menemukan daya tarik tersendiri dari satu tema yang sama.

Bagi kelompok BKB Mawar, Banjarharjo, Pondokrejo, fungsi Keagamaan menghantarkan perbincangan yang serius sekaligus membingungkan yakni tentang arti “kejujuran”. Semua anggota BKB setuju bahwa orang tua bertanggung jawab untuk mengajarkan kejujuran pada balitanya. “Tapi kalau jujur misalnya mau ke warung, dia mesti ikut. Nanti di sana minta jajan, trus gimana?” tanya salah seorang ibu diiyakan ibu yang lain. Banyak pendapat yang diusulkan mulai dari perjanjian kalau ikut tidak boleh jajan atau kalau jajan hanya sekian rupiah.

 

Lain lagi dengan fungsi keagamaan dalam kelompok BKR Melati,Plotengan. Para anggota BKR sampai pada pembahasan mengenai cara mengajak remaja rela berbagi dan taat beribadah. Ibu kader memberikan contoh bahwa agar remaja suka berbagi dengan orang lain, orang tua juga harus banyak berbagi. Sementara untuk ketaatan beribadah, orang tua juga harus menjadi teladan dalam beribadah. Orang tua juga harus hati-hati dalam mengajak remaja beribadah supaya mereka tidak mutung atau cenderung berbohong.

Sementara untuk BKL Cemoro, Ngentak, fungsi keagamaan bagi Lansia lebih pada penerapan pola pikir lansia. Di masa senja, banyak keluarga yang mengeluhkan bagaimana mendampingi lansia yang cenderung “rewel”. Mereka sehat tapi mudah tersinggung dan sulit diajak bicara. Oleh karena itu BKL ingin menguatkan kegiatan keagamaan pada lansia agar lansia lebih terbuka. Bisa menerima keadaan yang memang sudah berubah dari masa muda yang kuat dan sehat menjadi lebih renta. Harapannya dengan kegiatan beribadah seperti sholat, dzikir, dan ikut pengajian, lansia bisa lebih berpikiran positif.

Fungsi keagamaan bagaimanapun juga merupakan pondasi dari 7 fungsi yang lain. Kedekatan diri dengan Tuhan memungkinkan kita bisa menerapkan nilai keagamaan pada diri sendiri maupun keluarga. Dengan demikian, kita bisa melaksanakan fungsi keluarga yang lain. (xny)

You might also like
0 Comments
Add A Comment
Submit a Comment

Your email address will not be published. Required field are are marked *