SLEMAN – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan bertajuk “Implementasi PRISMA dalam Penguatan LPLPP” pada Rabu (12/8/2026) di Ruang Rapat Sinta Dinas P3AP2KB Sleman. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran Lembaga Penyedia Layanan Pemberdayaan Perempuan (LPLPP) di Kabupaten Sleman.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ibu Anik Widaryanti, S.P., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyoroti isu kesenjangan gender serta kerentanan yang masih dihadapi kaum perempuan. Data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Kabupaten Sleman tahun 2025 mencatat partisipasi perempuan baru mencapai 63,64%, berbanding cukup jauh dengan laki-laki sebesar 82,62%. Selain itu, keterwakilan perempuan di parlemen Sleman saat ini masih berada di angka 26% atau belum memenuhi target 30%. Sementara itu, data Sistem Informasi Kekerasan Perempuan dan Anak (SIKPA) mencatat sebanyak 310 perempuan di Sleman mengalami kasus kekerasan. Berangkat dari kondisi tersebut, Pusat Informasi Sahabat Perempuan (PRISMA) hadir sebagai langkah nyata dalam mewujudkan kesetaraan gender.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama oleh LPLPP di wilayah Kabupaten Sleman sebagai bentuk sinergi penguatan peran perempuan.
Dalam sesi pemaparan materi, Bapak Nuradi Indrawijaya menjelaskan bahwa PRISMA merupakan ekosistem kolaboratif berbasis literasi yang mengintegrasikan berbagai potensi modal sosial daerah—seperti PKK, TBM, GPMB, Forum UMKM, hingga perguruan tinggi. PRISMA mengusung 5 pilar literasi (baca tulis, digital, finansial, hukum/perlindungan, dan kepemimpinan) serta 6 bidang layanan yang diwujudkan melalui program unggulan seperti PRISMA Membaca, Berdaya, Leadership, Digital, Aman, dan Srasi Ngopi. Program ini bertujuan untuk menurunkan angka perkawinan anak dan kekerasan, memperkuat peran dalam Musrenbang, serta mendorong kemandirian ekonomi perempuan di Sleman.
Narasumber berikutnya, Ibu Nelly Tristiana, memaparkan peran PRISMA sebagai wadah perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam mengeliminasi berbagai isu ketimpangan gender seperti stereotip, subordinasi, marginalisasi, hingga kekerasan. Beliau juga memperkenalkan berbagai saluran pengaduan dan penanganan kasus, antara lain Call Center SAPA 129, UPTD PPA Kabupaten Sleman, Satgas PPA DIY, serta layanan konseling PUSPAGA/TeSAGA.
Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif bersama peserta. Menjawab pertanyaan mengenai strategi penguatan support system dan jejaring kerja sama antarlembaga, dijelaskan bahwa kolaborasi dapat dibangun melalui komitmen bersama dengan sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit, di mana dinas berperan sebagai komando. Selain itu, lembaga-lembaga di daerah juga diimbau untuk aktif membagikan informasi mengenai berbagai kegiatan pemberdayaan perempuan.

